Jakarta (DKI Jakarta)-mitratni-polri.id
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara resmi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Seni dan Budaya (LSB) Muhammadiyah di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (10/7). Kegiatan yang berlangsung hingga 12 Juli 2026 ini menjadi momentum memperkuat peran seni dan budaya sebagai media dakwah kultural sekaligus membangun peradaban bangsa.
Pembukaan Rakernas dipimpin langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, serta ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon, dan PP Muhammadiyah. Kerja sama tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi pemerintah dan Muhammadiyah dalam pengembangan seni dan budaya nasional.

Rakernas mengusung tema “Membumikan Dakwah Berkemajuan, Mewujudkan Ekosistem Seni dan Budaya yang Kreatif dan Inklusif.” Tema tersebut mencerminkan komitmen Muhammadiyah untuk menjadikan seni dan budaya sebagai bagian penting dari dakwah yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Dalam rangkaian kegiatan yang sama, turut diselenggarakan peringatan Milad ke-59 Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) serta agenda perencanaan Hari Majelis Taklim Nasional dengan mengusung tema “BMIWI Bersama Majelis Taklim untuk Indonesia: Melestarikan Tradisi Ilmu dan Meneguhkan Peradaban Berlandaskan Nilai-Nilai Islam.”
Dalam sambutannya, Prof. Haedar Nashir menegaskan bahwa seni dan budaya memiliki posisi strategis sebagai instrumen dakwah kultural Muhammadiyah. Menurutnya, dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah dan pendidikan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui karya seni, musik, seni rupa, sastra, hingga perfilman.
“Seni dan budaya merupakan instrumen penting dalam dakwah Muhammadiyah. Nilai-nilai keindahan yang terkandung di dalamnya mampu menjadi sarana membangun peradaban, membangkitkan potensi kemanusiaan, memperkuat persaudaraan, serta mendekatkan manusia kepada Allah SWT,” ujar Prof. Haedar Nashir.
Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah menyiapkan berbagai program pengembangan seni budaya yang bersifat inklusif, terbuka, dan melampaui batas agama, suku, ras, maupun kebangsaan. Pendekatan dakwah kultural tersebut diharapkan mampu memperkuat identitas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan sekaligus berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon, menyampaikan apresiasi atas peran Muhammadiyah dalam pengembangan seni dan budaya di Indonesia. Ia mengatakan, Kementerian Kebudayaan yang telah berdiri hampir dua tahun memiliki fokus utama memajukan kebudayaan Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
“Indonesia memiliki keberagaman budaya yang luar biasa, mulai dari film, seni rupa, sastra, tari, hingga berbagai tradisi yang hidup dari Sabang sampai Merauke. Kekayaan budaya tersebut merupakan modal besar bangsa Indonesia untuk membangun peradaban sekaligus memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional,” kata Fadli Zon.
Menurutnya, pelestarian budaya juga terus menunjukkan perkembangan positif. Jika sebelumnya jumlah cagar budaya nasional masih sekitar 200 objek, kini telah meningkat menjadi 743 cagar budaya nasional. Peningkatan tersebut menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya Indonesia.
Fadli Zon menambahkan bahwa kebudayaan bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi kekuatan diplomasi (soft power), penggerak ekonomi kreatif, dan daya tarik wisata budaya yang mampu meningkatkan citra Indonesia di mata dunia.
Melalui Rakernas Lembaga Seni dan Budaya PP Muhammadiyah ini, diharapkan lahir berbagai program kolaboratif antara Muhammadiyah, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memajukan seni dan budaya Indonesia sebagai fondasi pembangunan peradaban bangsa yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan kebangsaan.
Jurnalis: Ine
