Tragedi Petir Sambar Suami-Istri, GRIB JAYA SBD Siap Asuh Anak-Anak Korban

Tragedi Petir Sambar Suami-Istri, GRIB JAYA SBD Siap Asuh Anak-Anak Korban

Spread the love

Sumba Barat Daya (NTT)-Mitratni-polri.id

Proses meninggalnya manusia itu berbeda-beda, tegas Ketua DPC GRIB Jaya Kabupaten Sumba Barat Daya, Ibu Esty Bili. Tidak ada manusia di dunia ini yang tahu kapan ia akan meninggal. Sekali pun ia seorang peramal hebat, dia tidak tahu kapan maut itu datang merenggut nyawanya. Ibarat pencuri yang datang merampok tanpa memberitahukan waktu kapan ia datang merampok isi rumah seseorang.

Lebih jauh Ibu Esty Bili mengatakan, pada saat musibah ini terjadi pada hari Selasa (04/3), ia sedang berada di luar Pulau Sumba sehingga tidak segera datang melayat. Dan tepat pada hari ini Sabtu(8/3), merasa terpanggil untuk harus datang kesini untuk berbela sungkawa. Dan ada hal yang paling penting kenapa kami Ormas Grib Jaya SBD yang baru berusia bayi ini, harus hadir disini, sebab Misi kami adalah bergerak di bidang sosial, kemanusiaan dan kemasyarakatan. Ucapnya.

Lagi kata Ibu Esty Bily, kami datang karena kami peduli, ada rasa prihatin, ada rasa kasih sayang terhadap anak-anak yang ditinggalkan oleh kedua Almarhum yang saat ini ketiganya telah menjadi anak yatim piatu. Tambahnya lagi, saat ini usia mereka masih sangat kecil. Yang sulung (putri) bernama Mikelin Hardesi Wunga, berusia 9 tahun duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Gabrial Gamelia Wunga (cowok) usia 7 tahun kelas 1 SD dan Juwita Ostari Wunga (putri) usia 5 tahun dan bersekolah di TK.

Anak-anak ini masih membutuhkan kasih sayang orang tua. Mereka membutuhkan pendidikan yang baik dan membutuhkan masa depan yang baik. Ibu Esty Bili menjelaskan, bahwa GRIB Jaya SBD menyampaikan kepada keluarga besar! jika berkenan, jika diizinkan oleh keluarga besar kedua almarhum, GERAKAN RAKYAT INDONESIA BERSATU JAYA (GRIB Jaya), siap mengangkat ketiga anak-anak ini menjadi anak asuh. Ketiganya disekolahkan sampai mendapatkan pekerjaan.

Tentunya dalam proses mengangkat mereka menjadi anak asuh, tidak asal angkat mereka. GRIB Jaya paham betul bahwa pasti ada aturan hukum yang mengatur dan harus ditaati sehingga tidak ada negatif thinking dari keluarga besar kedua Almarhum terhadap Ormas GRIB Jaya. Dan tentunya anak- anak Almarhum ini tetap menjadi hak keluarga besar kedua Almarhum, tutur Ketua DPC GRIB Jaya SBD kepada Media ini(8/3).

Hendrikus Bora Rewa, Mantan Kepala Desa Kadi Wanno, Kec. Wewewa Timur mengatakan bahwa ia sangat merespon dengan baik apa yang dilakukan oleh Ormas GRIB Jaya ini. Belum ada ormas di kabupaten ini yang peduli soal kemanusian seperti GRIB Jaya. Mengapa saya katakan demikian bahwa sesungguhnya masyarakat Desa Kadi Wanno pada umumnya pekerjaan utama mereka bertani. Pendapatan perkapita setiap hari sangat rendah. Boleh dikatakan masih pra sejahtera. Oleh sebab itu, Mantan Kades ini mengucapkan terima Kasih kepada Ormas GRIB Jaya yang cepat responsif terhadap kaum marhein, tandasnya.

Pejabat Kepala Desa Kadi Wanno, Jufrison Sairo (8/3) di tempat kediamannya mengatakan bahwa ia selaku PJ Kepala Desa Kadi Wanno, Kec.Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, menyambut baik apa yang dilakukan oleh Ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya, untuk membantu kaum sandal jepit di desanya. Menurut PJ Kades Kadi Wanno, ini adalah hal sangat positif dan langkah terjadi di desanya ada Ormas yang peduli akan masyarakat. Tentunya keluarga besar menyambut baik untuk menyekolahkan anak-anak mereka sampai dapat pekerjaan. Sungguh suatu gerakan yang kita dukung dan acungi jempol. Ungkapnya.

Sementara itu, Ngongo seorang kerabat dekat korban Stefanus Wunga Bani (Almarhum) dan Apliana Lero (Almarhumah) ketika dikonfirmasi (8/3) terkait musibah yang menimpa suami istri yang meninggal di tempat pada hari selasa (4/3) menuturkan bahwa tepat jam 3 sore witeng (4/3) hujan turun dengan intensitas yang cukup tinggi juga disertai kilat dan guntur. Apliana Lero menadah air hujan di dapur dan suaminya yang bernama Stefanus Wunga Bani sedang duduk dan badannya menyandar pada tiang rumah.

Ia mengemukakan bahwa ketiga anak kedua korban sedang tidur di kamar. Tiba-tiba petir dari dapur sampai ke depan rumah menyambar Apliana Lero dan Stefanus Wunga Bani secara bersamaan sehingga keduanya meninggal di tempat. Anak-anak mereka yang sedang tidur terlonjat bangun dan langsung berlarian mendapati ayah dan ibu mereka. Si sulung masih sempat memadamkan api pada kayu yang terbakar tepat di bawah tempat ayahnya terbaring. Setelah memadamkan api! Mikelin bersama kedua adiknya membangunkan orang tua mereka dan tidak ada respon. Mikelin berlarian memberitahukan keluarga bahwa ayah dan ibunya terkena petir dan meninggal di tempat. Tutur, Ngongo.

Ngongo menyampaikan tak lama kemudian, masyarakat pun berlarian ke TKP dan betul kedua suami istri ini telah meninggal. Takdir manusia memang berbeda dalam ziarah di dunia fana ini. Ada yang mati gantung diri, ada yang mati karena lakalantas, ada yang mati di laut atau kecelakaan pesawat. Dan itulah takdir yang tidak bisa ditolak termasuk kedua keluarga kami ini. Kami yang tak pernah menduga, petir merenggut nyawa mereka berdua. Dan kami sebagai keluarga mengiklaskan. Siapa yang bisa menolak sk dari Sang Pemberi hidup, ujarnya kepada Media ini.

 

Liputan: Lodowikus Umbu Lodongo, SH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *