Lamongan (Jawa Timur)-MitraTNI-POLRI.ID
Dunia persilatan di Kabupaten Lamongan mencatat lembaran sejarah baru. Pada Minggu, 9 Agustus 2026, Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHW TM) Cabang Lamongan menggelar perayaan syukuran dan tradisi Samat Sinamatan di kantor sekretariat mereka, Dusun Ploso Geneng, Desa Ploso Wahyu, Kecamatan Lamongan. Acara ini menandai secara resmi disahkannya perguruan tersebut sebagai anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Lamongan, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 03/SK/PC.13/XA/VII/2026 tertanggal 30 Juli 2026. Perjuangan para pendiri, sesepuh, dan pengurus yang digeluti selama hampir empat dekade akhirnya membuahkan hasil berupa pengakuan hukum yang memungkinkan organisasi berkiprah secara resmi dalam pembinaan olahraga bela diri nasional.
Syukur yang Menggabungkan Harapan dan Ketaatan
Inti perayaan ini adalah pelaksanaan Samat Sinamatan, tradisi khas warga Setia Hati yang merangkai doa bersama, pemotongan tumpeng, dan silaturahmi antar-sesama warga. Ini bukan sekadar perayaan urusan administrasi, melainkan pernyataan tekad untuk mempererat ikatan persaudaraan. Keanggotaan di IPSI memiliki makna ganda: secara hukum, membuka akses penuh terhadap kejuaraan resmi dan program pembinaan; secara moral, menjadi pengingat untuk senantiasa menjaga nama baik perguruan, bersikap sportif, dan berpegang teguh pada ajaran luhur “Eling Kuat Selamet”. Dalam kesempatan itu, seluruh jajaran Ranting juga dibekali pemahaman tentang peraturan IPSI, menegaskan bahwa kepatuhan terhadap induk organisasi adalah syarat mutlak berjalannya kerja sama yang baik.
Buah Persatuan Seluruh Warga
Keberhasilan meraih status resmi ini tak lepas dari dukungan seluruh elemen yang ada di lingkungan PSHW TM Cabang Lamongan. Mulai dari Ketua Umum Wahyono, Ketua Harian Karsan, para pemimpin Ranting, pelatih, hingga anggota biasa, semuanya turut berperan aktif. Hal ini membuktikan bahwa pencapaian lahir dari kerja bersama, bukan perjuangan perseorangan. Tokoh senior Sutopo turut mengingatkan bahwa kekompakan dan musyawarah adalah pondasi utama. Kesabaran para sesepuh dan pelatih yang tak henti membimbing generasi muda menjadi alasan mengapa organisasi ini mampu bertahan hingga akhirnya diakui secara resmi. Tanpa partisipasi aktif setiap Ranting dalam melengkapi persyaratan, surat keputusan itu hanyalah dokumen tanpa makna.

Pencapaian ini jatuh bertepatan sehari sebelum peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81, yang membawa makna mendalam: kemerdekaan berorganisasi yang selama ini dinanti akhirnya terwujud. Sekretariat di Ploso Geneng menjadi saksi bersejarah tersebut. Jika tanggal 30 Juli menjadi titik sahnya status administrasi, maka 9 Agustus menjadi momen di mana kebahagiaan itu dirayakan bersama dan disebarluaskan. Kini PSHW TM Lamongan berdiri dengan kedudukan yang kokoh, siap berkontribusi dalam berbagai kegiatan olahraga maupun kegiatan kenegaraan lainnya.
Melangkah Tertib Menuju Kualitas Lebih Baik
Bergabungnya perguruan ini ke dalam IPSI memiliki alasan yang sangat kuat. Tanpa payung hukum yang jelas, kegiatan organisasi kerap menghadapi hambatan, seperti yang pernah dialami Ranting Brondol saat menyelenggarakan kegiatan. Keanggotaan ini menjamin perlindungan hukum, pelatihan terarah bagi pesilat, serta kesempatan bertanding di ajang resmi. Lebih dari itu, ini adalah pernyataan untuk berubah dari kebiasaan berjalan sendiri menuju tertib bersama aturan: “Jangan bertindak semaunya, patuhi aturan,” tegas Ketua Cabang. Perubahan ini bertujuan agar lahir pesilat yang tidak hanya jago di gelanggang, tetapi juga berakhlak mulia di tengah masyarakat.
Mewujudkan Aturan dalam Tindakan Nyata
Status yang sudah diraih harus diimbangi dengan langkah nyata. Alur kerja yang harus dijalankan adalah Cabang, menuju IPSI tingkat Kecamatan, hingga ke masing-masing Ranting. Setiap Ranting diwajibkan segera melengkapi administrasi hingga tingkat kecamatan, menyerahkan data secara berkala, dan aktif hadir dalam setiap pertemuan IPSI. Pesan yang disampaikan Sutopo menegaskan bahwa “satu tujuan, satu aturan dari pusat hingga bawah” adalah kunci keberlangsungan. Musyawarah harus menjadi jalan utama, bukan mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan demikian, keanggotaan ini bukan sekadar nama tercatat, melainkan benar-benar hidup dan bermanfaat bagi semua. Doa dan tradisi Samat Sinamatan hari ini menjadi ikrar untuk menjalankan kewajiban itu dengan konsisten.

Lembaran Baru yang Penuh Harapan
Tiga puluh tujuh tahun adalah waktu yang panjang, namun kesabaran para pendahulu akhirnya terbayar lunas. Legalitas ini bukan garis akhir, melainkan awal perjalanan yang lebih baik untuk mengabdi pada masyarakat dan bangsa. Semoga amanah ini dijaga dengan kedisiplinan, persaudaraan yang kian erat, dan ketaatan pada aturan. Selamat kepada segenap keluarga besar PSHW TM Cabang Lamongan! Semoga dalam naungan IPSI, persaudaraan ini semakin kokoh, senantiasa selamat, dan tak pernah lupa pada tujuan yang luhur.
Merdeka! Eling Kuat Selamet!
Jurnalis: Sunariyanto
—
