Ketulusan di Akar Rumput: Kisah Santy Helena, Pengusaha Perhiasan yang Hijaukan Pasar Minggu Jauh Sebelum Era “Foke”

Ketulusan di Akar Rumput: Kisah Santy Helena, Pengusaha Perhiasan yang Hijaukan Pasar Minggu Jauh Sebelum Era “Foke”

Spread the love

Jakarta (DKI Jakarta)-MitraTNI-POLRI.ID

Di tengah hiruk-pikuk beton perkotaan Jakarta yang kian padat, kesadaran menjaga lingkungan kerap kali hanya menjadi wacana di atas kertas. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Santy Helena. Jauh sebelum isu perubahan iklim dan pemanasan global menjadi diskursus utama di ruang-ruang birokrasi kota, perempuan yang kesehariannya berkecimpung sebagai pebisnis perhiasan emas ini telah memilih turun langsung ke lumpur dan tanah lapang.

Berbekal kepedulian mendalam terhadap kelestarian lingkungan urban, Santy memelopori gerakan penghijauan mandiri di wilayah Pasar Minggu dan Jati Padang, Jakarta Selatan. Ia tidak hanya merawat tanaman seorang diri, melainkan aktif merangkul dan merekrut generasi muda setempat untuk bersama-sama peduli terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.

Aksi Swadaya: “Biar Nggak Diklaim”

Ada cerita unik di balik gerakan akar rumput yang digagas Santy pada masa itu. Penanaman berbagai jenis tanaman, terutama bunga Tecoma stans (atau yang populer sebagai bunga terompet emas/kencana wungu) di pinggir jalan dan lahan kosong Pasar Minggu serta Jati Padang, dilakukan secara murni swadaya oleh warga dan para pemuda.

Dengan gaya humor khas lokal yang mencerminkan semangat kemandirian warga, gerakan ini sengaja dijaga ketat oleh anak-anak muda setempat. Candaan “biar nggak diklaim lurah Pasar Minggu” menjadi pemantik semangat kolektif agar upaya swadaya murni dari keringat warga ini tidak serta-merta diakui sebagai proyek instan birokrasi formal. Melalui cara ini, rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap lingkungan benar-benar tertanam di dada para pemuda.

Dilirik Gubernur Fauzi Bowo hingga Raih Penghargaan Nasional

Konsistensi dan ketulusan tanpa pamrih yang ditunjukkan Santy Helena bersama para pemuda akhirnya membuahkan hasil manis. Kabar mengenai gerakan penghijauan swadaya yang hidup di tingkat tapak ini perlahan naik hingga ke telinga orang nomor satu di Jakarta kala itu, Gubernur DKI Jakarta Dr. Ing. H. Fauzi Bowo (Foke).

Melihat efektivitas gerakan komunitas yang mampu menggerakkan warga tanpa paksaan, Gubernur Fauzi Bowo tidak lantas mengambil alih secara sepihak. Sebaliknya, ia memilih untuk merangkul dan menggandeng Santy Helena secara aktif untuk memperluas cakupan penghijauan di wilayah Pasar Minggu. Langkah ini menjadi teladan awal sinergi yang harmonis antara pemerintah daerah dan inisiatif masyarakat sipil (civil society).

Buah dari kerja keras, konsistensi, dan ketekunan membina kader muda lingkungan ini pun berbuah kado istimewa. Program penghijauan yang dimotori Santy Helena sukses menorehkan prestasi membanggakan dengan menyabet gelar Juara Green and Clean dari Unilever, sebuah pengakuan tingkat nasional atas keberhasilan pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan hidup.

Kini, jejak langkah Santy Helena di Pasar Minggu dan Jati Padang tetap dikenang sebagai bukti otentik bahwa perubahan besar di perkotaan tidak selalu harus menunggu instruksi dari atas, melainkan bisa bermula dari tangan-tangan tulus warga di akar rumput.

 

RESTU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *