Pukul 02.00 WIB Terbakar! 9 Rumah Hangus, 1 Jiwa Terpanggang, Damkar Datang Terlambat, “Padang Sidimpuan MANTAP” Ternyata Hanya Slogan!

Pukul 02.00 WIB Terbakar! 9 Rumah Hangus, 1 Jiwa Terpanggang, Damkar Datang Terlambat, “Padang Sidimpuan MANTAP” Ternyata Hanya Slogan!

Spread the love

Padang Sidimpuan (Sumatera Utara)-MitraTNI-POLRI.ID

Kelurahan Kantin, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota Padangsidimpuan tepat di belakang SMP Negeri 1 Padangsidimpuan.

Tragedi mengerikan melanda warga pada Jumat, 25 September 2026, sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Api berkobar dan meluas sangat cepat — didorong besarnya kobaran serta konstruksi rumah semi permanen yang mudah terbakar. Sekitar 9 rumah warga ludes hangus rata dengan tanah, tak tersisa apa pun.

Yang paling menyayat hati: satu penghuni rumah tidak sempat menyelamatkan diri, meninggal dunia terpanggang di dalamnya. Pagi ini, Tim Polres Padangsidimpuan melakukan evakuasi jenazah korban di hadapan ratusan warga yang menyaksikan dengan duka sekaligus kemarahan yang meluap-luap. Warga membenarkan: 9 rumah habis, 1 nyawa melayang.

Di mana Dinas Pemadam Kebakaran saat nyawa sedang dipertaruhkan? Datang, TAPI SUDAH TERLAMBAT!

Saat petugas akhirnya tiba, api sudah mengganas raksasa dan menyebar ke rumah-rumah sekitar. Warga sudah berjuang berjam-jam lebih dulu dengan ember, kain basah, dan tenaga sendiri kelelahan, tak berdaya, melihat harta benda ludes di depan mata. Pemadaman baru tuntas sekitar pukul 05.00 WIB tiga jam penuh sejak api pertama kali muncul. Tiga jam yang menentukan nasib warga, di mana pertolongan negara datang terlambat.

Kita sering mendengar jargon bangga: “Padangsidimpuan MANTAP”. Tapi nyatanya? Di saat rakyat menjerit minta tolong, Damkar lambat bergerak, Pemerintah Kota diam saja, dan satu nyawa warga hilang sia-sia! Inikah yang disebut “MANTAP”? Mantap membiarkan rakyat berjuang sendiri? Mantap membiarkan rumah hancur dan korban terpanggang tanpa pertolongan cepat? Jangan banggakan slogan kalau pelayanannya belum layak!

Jangan sembunyi di balik alasan “api sudah besar”. Api menjadi besar justru karena pertolongan terlambat datang. Sembilan keluarga kini terlantar tanpa atap. Satu nyawa tak bisa kembali. Ini bukan sekadar musibah ini bukti bahwa kesigapan yang dijanjikan ternyata kosong melompong.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran belum diketahui, identitas korban dan jumlah kerugian masih dalam pendataan. Namun satu hal sudah jelas: keterlambatan respon Damkar merenggut kesempatan menyelamatkan nyawa dan harta.

Belum ada satu pun pernyataan, klarifikasi, maupun permohonan maaf dari Dinas Pemadam Kebakaran maupun Pemerintah Kota Padangsidimpuan. Rakyat menuntut penjelasan: di mana “MANTAP”-nya saat kami butuh pertolongan? Mengapa terlambat? Siapa yang bertanggung jawab?

 

Peliput : Tommy P Sianturi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *